Jumat, 19 November 2010

IDENTIFIKASI PROTEIN BERDASARKAN IKATAN PEPTIDA PADA PROTEIN DENGAN UJI BIURET, PENGENDAPAN DENGAN LOGAM, PENGENDAPAN DENGAN GARAM, UJI KOAGULASI, PENEGENDAPAN DENGAN ALKOHOL,DENATURASI PROTEIN DAN UJI BELERANG DALAM PROTEIN.
I Kadek Agus Tarsana, 0613031035

ABSTRAK
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida.
Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu struktur primer, sekunder, tersier dan kwartener. Keempat struktur tersebut pada dasarnya dibedakan atas jenis dan jumlah ikatan/interaksi kimia.
Untuk mengidentifikasi protein berdasarkan ikatan peptidanya dilakukan beberapa uji. Uji –uji yang dilakukan adalah uji biuret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam, uji koagulasi, pengendapan dengan alkohol ,denaturasi protein dan uji belerang dalam protein.
Protein menunjukkan uji positif terhadap uji biuret. Ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna ungu. Pada pengendapan protein dengan ion logam berat, pengendapan terjadi karena ion logam berat dengan protein membentuk garam proteinat yang tidak larut dalam air. Pada pengendapan dengan garam. Endapan terjadi karena ion garam lebih mudah untuk mengikat air dibandingkan dengan molekul protein. Pada uji koagulasi, protein mengalami koagulasi karena terjadinya perubahan pengkutuban muatan sehingga konformasi protein rusak. Pada pengendapan dengan alkohol, gugus hidroksi dari alkohol lebih mudah terhidrasi sehingga protein mengendap. Denaturasi protein terjadi karena adanya perubahan pH atau suhu yang tidak terlalu extrem. Uji sulfur pada protein menunjukkan uji positif dengan terbentuknya endapan puith BaSO4.

I. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Suatu molekul protein disusun oleh sejumlah asam amino tertentu dengan susunan yang sudah tertentu pula dan bersifat turunan. (Aisjah Girindra: 1986)
Hidrolisis lengkap suatu protein akan menghasilkan campuran 20 macam asam amino. Dengan jenis monomer sebanyak itu, maka dapat dibayangkan besarnya kemungkinan susunan asam-asam amino dalam suatu molekul protein. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau protein dapat memerankan berbagai fungsi fisiologis dalam berbagai organisme.
Dalam sebuah molekul protein rantai polipeptida memiliki satu konformasi yang sudah tertentu pada suhu dan pH normal. Konformasi ini disebut konformasi asli, sangat stabil sehingga memungkinkan protein biasa diisolasi dalam konformasi aslinya itu. Dalam struktur protein, tulang rangka dari rantai peptida terdiri dari sebuah seri bidang datar kaku yang dipisahkan oleh gugus –CHR-. Struktur dari sebuah protein dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ikatan peptida yang terletak pada satu bidang datar, rotasi sumbu Cα¬-N dan rotasi Cα-C dan gugus –R yang berupa bagian dari asam amino polar, polar tanpa muatan dan bermuatan negatif atau positif. (Aisjah Girindra: 1986)
Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu struktur primer, sekunder, tersier dan kwartener. Keempat struktur tersebut pada dasarnya dibedakan atas jenis dan jumlah ikatan/interaksi kimia.
a. Sruktur Primer
Strutur primer protein ditentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan yang membentuk ikatan peptida. (Muhamad Wirahadikusuma: 2001) Pada struktur primer terdapat informasi tentang urutan dari asam amino yang menyusun suatu protein.
b. Struktur Sekunder
Pada struktur sekunder, rantai asam amino tidak hanya dihubungkan oleh rantai peptida tetapi diperkuat juga oleh ikatan hidrogen. Ikatan hydrogen antara atom O dari gugus karbonil (C-O) dengan atom H dari gugus amino (N-H) dalam suatu rantai polipeptida, memungkinkan terbentuknya konformasi spiral yang disebut struktur helix. Jika ikatan hydrogen tersebut terjadi antara dua rantai polipeptida, maka masing-masing rantai tidak membentuk helix, melainkan rantai paralel dengan bentuk berkelok-kelok yang disebut konformasi β. Rantai polipeptida dengan konformasi β ini dihubung silangkan oleh ikatan hidrogen membentuk suatu struktur yang disebut lembaran berlipat-lipat. (Muhamad Wirahadikusuma: 2001)





Struktur sekunder protein
c. Struktur Tersier
Struktur tersier terbentuk karena terjadinya perlipatan (folding) rantai α-helix, konformasi β, maupun gulungan rambang suatu polipeptida, membentuk protein globular. Kestabilan struktur ini bergantung pada gugus –R pada setiap asam amino yang membentuknya, dan distabilkan oleh ikatan hidrogen, ikatan disulfida, interaksi hidrofilik, interaksi hidrofobik dan interaksi dipol-dipol. Konformasi rantai polipeptida ini menentukan kekhasan suatu protein dan sangat berpengaruh pada aktivitas katalitik enzim secara khusus. Bentuk ini disebut protomer.

Struktur tersier protein

d. Struktur Kwartener
Pada struktur kwartener terjadi interaksi antara struktur tersier suatu protein membentuk suatu agregat yang memiliki suatu fungsi biologi tertentu. Ikatan yang terlibat biasanya ikatan non kovalen dan kebanyakan ikatan hidrofobik terjadi pada daerah-daerah nonpolar.

Struktur kwartener protein

Pada percobaan ini akan dilakukan identifikasi protein dengan memanfaatkan ikatan yang khas pada protein, yaitu ikatan peptida dengan uji biuret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam, uji koagulasi, pengendapan dengan alkohol, denaturasi protein dan uji belerang dalam protein.

TUJUAN
Mengidentifikasi protein berdasarkan ikatan peptida pada protein dengan uji biuret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam, uji koagulasi, pengendapan dengan alkohol, denaturasi protein dan uji belerang dalam protein.

II. METODE
Untuk mengidentifikasi protein berdasarkan ikatan peptidanya dilakukan beberapa uji. Uji –uji yang dilakukan adalah uji biuret, pengendapan dengan logam, pengendapan dengan garam, uji koagulasi, penegendapan dengan alkohol,denaturasi protein dan uji belerang dalam protein.
1. Uji Biuret
Biuret dihasilkan dengan memanaskan urea pada suhu ± 180oC. Adapun reaksinya sebagai berikut.

Dalam larutan basa, biuret memberikan warna ungu dengan CuSO4. Reaksi ini disebut dengan reaksi biuret, kemungkinan terbentuk kompleks Cu2+ dengan gugus C O dan N-H dari rantai peptida dalam suasana basa. Dipeptida dan asam-asam amino (kecuali serin dan treonin) tidak memberikan uji positif.
Banyaknya asam amino yang terikat pada ikatan peptida mempengaruhi warna reaksi ini. Dipeptida membentuk warna biru, tripeptida membentuk warna ungu, tetrapeptida serta peptida kompleks membentuk warna merah.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
Larutan albumin
Larutan NaOH 2,5 N
Larutan CuSO4 0,01 N
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Tambahkan 1 mL larutan NaOH 2,5 N ke dalam 3 mL larutan protein dan aduk.
2. Tambahkan tetes demi tetes larutan CuSO4 0,01 N. Aduk, jika tidak timbul warna, tambahkan lagi satu atau dua tetes larutan CuSO4.
2. Pengendapan dengan Logam
Protein dapat diendapkan oleh ion-ion logam berat. Pengendapan ini terjadi karena ion-ion logam berat membentuk garam proteinat yang tidak larut dalam air. Pengendapan ini terjadi karena adanya reaksi penetralan muatan antara ion logam berat dengan anion dari protein.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah Larutan albumin
Larutan HgCl2 0,2 M
Larutan Pb-asetat 0,2 M
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya
Prosedur Kerja
Ke dalam 3 mL larutan protein tambahkan 5 tetes larutan HgCl2 0,2 M. Ulangi percobaan dengan menggunakan Pb-Asetat.

3. Pengendapan dengan Garam
Apabila terdapat garam-garam anorganik pada konsentrasi tinggi pada larutan protein, maka kelarutan protein akan berkurang sehigga akan mengakibatkan protein tersebut mengendap. Hal ini disebabkan oleh ion-ion garam berkompetisi dengan molekul-molekul protein untuk mengikat air. Karena kemampuan garam terhidrasi lebih besar daripada molekul protein, maka molekul-molekul protein akan mengendap. Protein yang diendapkan tidak mengalami perubahan kimia sehingga dapat dilarutkan kembali melalui penambahan air.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL
Spatula
Batang pengaduk
Kertas saring 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah Larutan albumin
Larutan (NH4)2SO4
Reagen Millon
Reagen Biuret
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Jenuhkan 3 mL larutan protein dengan amonium sulfat.
 Tambahkan sedikit demi sedikit garam amonium sulfat, aduk hingga melarut.
 Tambahkan sedikit lagi garam amonium sulfat dan aduk lagi.
 Teruskan hingga sedikit garam amonium yang tertinggal tidak melarut.
2. Saring larutan yang sudah jenuh.
3. Uji kelarutan endapan di dalam air
4. Uji endapan dengan reagen millon dan filtrat dengan reagen biuret.
4. Uji Koagulasi
Stabilitas larutan protein ditentukan oleh struktur tersier atau strukur kwartener dari protein dalam larutan. Larutan protein pada titik isoelektriknya memiliki kutub negatif dan positif dengan perbandingan sama. Penambahan asam ke dalam larutan protein menyebabkan ion-ion H+ dari asam akan terikat pada gugus-gugus yang bermuatan negatif sehingga terjadi perubahan pengutuban dari molekul protein. Perubahan pengutuban ini menyebabkan perubahan konformasi dari protein atau rusaknya struktur tersier atau struktur kwartener protein sehingga protein mengalami koagulasi.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL
Pemanas
Batang pengaduk 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah Larutan albumin
Larutan CH3COOH
Reagen Millon
Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Tambahkan 5 tetes asam asetat ke dalam 5 mL larutan protein.
2. Panaskan dalam air mendidih selama 5 menit, kemudian dinginkan.
3. Bila terdapat endapan, ambil dengan batang pengaduk.
4. Uji kelarutan endapan dalam air.
5. Uji endapan dengan reagen Millon.
5. Pengendapan dengan Alkohol
Penambahan pelarut nonpolar terutama etanol , ke dalam larutan protein dapat menurunkan kelarutan protein dalam air sehingga terjadi pengendapan. Efek ini menunjukkan bahwa kelarutan protein pada pH dan kekuatan ionik tetap merupakan fungsi dari konstanta dielektrik medium. Karena konstanta dielektrik etanol lebih rendah dari konstanta dielektrik air, maka penambahan etanol ke dalam larutan protein menaikkan gaya tarik-menarik antara muatan berlawanan dan menurunkan derajat ionisasi gugus R protein. Akibatnya molekul protein cenderung beragregasi dan mengendap.
Penambahan alkohol ke dalam larutan protein akan menyebabkan berkurangnya larutan protein dalam air, sehingga akan terjadi pengendapan protein. Hal ini terjadi karena gugus –OH dari alkohol lebih kuat mengikat air melalui pembentukan ikatan hidrogen, sehinga kelarutan protein akan berkurang.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL
1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
Larutan albumin
Larutan HCl 0,1 M
Reagen NaOH 0,1 M
Buffer asetat pH 4,7
Etanol 95% Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya Secukupnya
Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Masukkan 5 mL larutan albumin pada tiga tabung reaksi yang berbeda.
2. Tambahkan 1 mL larutan HCl 0,1 M pada tabung 1, kemudian tambahkan dengan etanol 95%.
3. Tambahkan 1 mL larutan NaOH 0,1 M pada tabung 2, kemudian tambahkan dengan etanol 95%.
4. Tambahkan 1 mL buffer asetat pH 4,7 pada tabung 3, kemudian tambahkan dengan etanol 95%.
5. Amati kelarutan yang terjadi pada masing-masing tabung.
6. Denaturasi Protein
Denaturasi protein merupakan perubahan struktur protein yang menyimpang dari struktur alamiahnya. Denaturasi disebabkan karena hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh rusaknya ikatan hidrigen dan gaya-gaya sekunder lain yang membutuhkan molekul itu. Akibat suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat biologis protein itu. Penyebab terjadinya denaturasi protein adalah karena adanya perubahan suhu atau pH yang tidak terlalu ekstrem.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL
Pemanas 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah Larutan albumin
Larutan HCl 0,1 M
Reagen NaOH 0,1 M
Buffer asetat pH 4,7 Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Masukkan 9 mL larutan albumin ke dalam 3 tabung reaksi yang berbeda.
2. Tambahkan buffer asetat pH 4,7 pada tabung 1, kemudian panaskan selama 15 menit lalu didinginkan pada temperatur kamar.
3. Tambahkan larutan HCl 0,1 N pada tabung 2, kemudian panaskan selama 15 menit lalu didinginkan pada temperatur kamar.
4. Tambahkan larutan NaOH 0,1 N pada tabung 3, kemudian panaskan selama 15 menit lalu didinginkan pada temperatur kamar.


7. Uji Belerang dalam Protein
Belerang dalam protein dapat dioksidasi oleh oksidator menjadi ion sulfat. Ion sulfat dalam suasana basa bereaksi dengan ion Ba2+ membentuk endapan berwarna putih.
Alat dan Bahan
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Tabung reaksi
Pipet tetes
Gelas kimia 25 mL
Gelas ukur 5 mL
Cawan porselen
Spatula
Kertas saring 1 rak
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah Serbuk albumin
Na2CO3 anhidris
KNO3
Larutan BaCl2 Secukupnya
Secukupnya
Secukupnya Secukupnya
Prosedur Kerja
1. Campur 0,5 gram serbuk albumin dengan dua kali berat fusion mixture.
2. Panaskan dalam cawan porselen.
3. Dinginkan dan larutkan dengan air panas. Saring jika perlu.
4. Asamkan fitrat dengan HCl, kemudian panaskan hingga mendidih.
5. Tambahkan beberapa tetes BaCl2

III. PEMBAHASAN
1. Uji Biuret
Uji biuret merupakan reaksi untuk identifikasi protein secara umum. Pada percobaan ini, ketika larutan albumin telur ditambahkan dengan beberapa tetes larutan CuSO4, terbentuk larutan yang berwarna ungu. Hal ini menunjukkan uji positif terhadap uji biuret karena terbentuknya kompleks Cu2+ dengan asam amino pada larutan albumin. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut.


Laruatan berwarna ungu yang terbentuk menunjukkan bahwa sebagian protein yang terdapat dalam larutan albumin yang diuji adalah tripeptida.
2. Pengendapan dengan Logam
Pada percobaan ini, larutan albumin ditambahkan dengan larutan HgCl2 dan larutan Pb-asetat. Setelah larutan albumin ditambahkan dengan larutan HgCl2 dan larutan Pb-asetat, terbentuk endapan berwarna putih dari garam proteinat.

Larutan protein pada titik isoelektriknya memiliki kutub negatif dan positif dengan perbandingan sama. Endapan putih yang dihasilkan merupakan hasil dari reaksi penetralan muatan antara ion logam berat sebagai kation dengan molekul protein sebagai anion.
Pada penambahan larutan protein dengan HgCl¬2 dan Pb-asetat, anion-anion dari HgCl¬2 dan Pb-asetat akan menyebabkan suasana larutan menjadi sedikit asam, sehingga protein akan mengkondisikan diri sebagai basa dan sebagian terdapat sebagai anion. Anion dari protein inilah yang bereaksi dengan ion logam berat membentuk garam proteinat yang tidak larut dalam air. Reaksi yang terjadi



garam proteinat yang tidak larut
3. Pengendapan dengan Garam
Pengendapan protein dengan garam dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit garam amonium sulfat ke dalam larutan protein secara kontinyu sampai larutan jenuh.
Pada percobaan ini, ketika ke dalam larutan protein ditambahkan garam amonium sulfat sampai jenuh, larutan protein mengendap membentuk endapan putih. Mengendapnya protein disebabkan karena adanya kompetisi antara ion-ion garam amonium dengan molekul protein untuk mengikat air. Karena ion-ion dari garam amonium lebih mudah dalam mengikat air, menyebabkan kelarutan protein dalam air berkurang. Dengan penambahan garam secara kontinyu, molekul air akan keluar dari larutan dan mengendap. Proses ini disebut dengan salting out.

Setelah dilakukan penyaringan, filtrat yang dihasilkan diuji dengan uji biuret. Filtrat yang dihasilkan ditambahkan dengan larutan CuSO4. Setelah ditambahkan dengan larutan CuSO4, filtrat menunjukkan uji negatif terhadap uji biuret, filtrat yang tadinya bening tetap bening. Hal ini mengindikasikan bahwa protein dalam larutan sudah semuanya mengendap, sehingga di dalam filtrat sudah tidak ada lagi protein.
Endapan yang diperoleh dari penyaringan diuji kelarutanya dalam aquades serta diuji dengan reagen Millon.. Ketika endapan dilarutkan dalam aquades, endapan tersebut kembali terlarut. Hal ini sesuai dengan sifat alamiah endapan protein yang larut dalam air. Sedangkan ketika endapan diuji dengan reagen millon, mula-mula tidak terjadi perubahan, tetapi setelah dipanaskan, endapan berubah menjadi berwarna kemerahan. Hal ini menunjukkan uji positif terhadap uji millon. Ini berarti endapan tersebut masih mengandung asam amino. Asam amino yang terkandung adalah asam amino tirosin, karena terbentuknya endapan merah setelah ditambahkan reagen millon dan dipanaskan.
4. Uji Koagulasi
Pada percobaan ini dilakukan penambahan asam asetat ke dalam larutan protein. Ketika larutan protein ditambahkan dengan larutan asam asetat, tidak terjadi perubahan. Namun setelah dipanaskan terbentuk gumpalan-gumpalan putih yang menunjukkan protein telah terkoagulasi.

Terjadinya koagulasi disebabkan karena ion H+ dari CH3COOH terikat pada gugus negatif pada protein. Ketika ion H+ dari asam asetat masuk ke dalam larutan, akan mempengaruhi keseimbangan dan pengkutuban muatan dari molekul protein. Perubahan pengkutuban ini menyebabkan rusaknya konformasi alamiah protein seperti struktur tersier dan struktur kwartener protein. Rusaknya konformasi alamiah protein menyebabkan terganggunya stabilitas dari larutan protein, sehingga larutan protein mengalami koagulasi.
5. Pengendapan dengan Alkohol
Pada percobaan ini, dilakukan tiga uji terhadap larutan protein. Pada uji yang pertama, ke dalam larutan protein ditambahkan dengan larutan HCl. Penambahan larutan HCl ini menyebabkan larutan protein mengendap. Mengendapnya larutan protein ini disebabkan karena setelah ditambahkan dengan larutan HCl, pH larutan protein berada di bawah titik isoelektrik Pada keadaan ini kelarutan protein berada pada titik minimumnya, sehingga dengan penambahan asam kuat membuat larutan protein semakin cepat mengendap karena kelarutannya dalam air sangat berkurang. Ketika ditambahkan dengan etanol, larutan protein semakin banyak yang mengendap. Hal ini terjadi karena gugus –OH dari etanol lebih mudah terhidrasi daripada molekul protein, sehingga kelarutan protein dalam air berkurang.
Pada uji yang kedua ditambahkan larutan NaOH ke dalam larutan protein. Penambahan NaOH ke dalam larutan protein menyebabkan pH larutan di atas pH isoelektrik sehingga kelarutan protein dalam air meningkat dan larutan tetap bening. Ketika ditambahkan dengan etanol, larutan tetap bening. Hal ini terjadi karena molekul-molekul protein yang kelarutanya telah meningkat akibat penambahan basa tidak kalah bersaing dengan gugus –OH dari etanol untuk mengikat air, sehingga molekul protein tidak mengendap dan larutan tetap bening.
Pada uji yang ketiga, larutan protein ditambahkan dengan buffer asetat. Penambahan buffer asetat ini menyebabkan protein mengendap. Hal ini dikarenakan kondisi larutan berada di bawah pH isoelektrik, hal ini disebabkan karena pH buffer asetat yang sedikit asam. Pada kondisi ini kelarutan protein berada pada titik minimum, sehingga protein akan mengendap. Dengan penambahan alkohol menyebabkan protein semakin banyak yang mengendap. Ini disebabkan karena molekul protein kalah bersaing dengan gugus –OH dari etanol untuk mengikat air, sehingga molekul protein akan mengendap.
Proses pengendapan dengan alkohol digambarkan sebagai berikut.


6. Denaturasi Protein
Pada pengujian ini dilakukan pengujian terhadap sifat alamiah protein. Pada percobaan ini dibuat tiga larutan protein, dimana pada masing-masing larutan protein tersebut ditambahkan dengan senyawa yang berbeda. Pada larutan protein I ditambahkan dengan larutan HCl 0,1 M, kemudian dipanaskan. Setelah ditambah dengan HCl dan dipanaskan tidak terjadi perubahan pada larutan protein. Hal ini terjadi karena penambahan HCl yang bersifat sebagai asam kuat menyebabkan pH larutan protein menjadi sangat asam.
Pada larutan II ditambahkan dengan NaOH 0,1 N kemudian dipanaskan. Penambahan larutan NaOH ini tidak menyebabkan perubahan pada larutan protein. Hal ini disebabkan karena larutan NaOH bersifat sebagai basa kuat, sehingga terjadi perubahan pH yang sangat extrem pada larutan protein menjadi basa.
Pada larutan III ditambahkan dengan buffer asetat kemudian dipanaskan. Penambahan buffer asetat dan pemanasan ini menyebabkan timbulnya endapan putih. Endapan putih yang terbentuk mengindikasikan terjadinya denaturasi protein. Denaturasi ini disebabkan karena buffer asetat sangat kuat mempertahankan pHnya pada pH 4,7 sehingga dapat merusak keseimbangan switer ion ke kondisi asam di bawah titik isoelektrik. Perubahan struktur yang diakibatkan proses denaturasi adalah perubahan konfigurasi protein α-heliks menjadi memanjang. Hal ini disebabkan karena rusaknya ikatan hidrogen dan ikatan nonpolar yang terjadi pada struktur berlipat dari protein.
7. Uji Belerang dalam Protein
Uji belerang dilakukan untuk menguji kandungan belerang pada larutan protein. Pada percobaan ini serbuk albumin yang berwarna kuning ditambahkan dengan reagen fushion yang berwarna putih, kemudian dipanaskan. Setelah pemanasan dihasilkan serbuk berwarna putih. Dalam proses ini terjadi reaksi oksidasi pada protein oleh reagen fushion.

Serbuk putih yang dihasilkan dari pemanasan kemudian dilarutkan dalam air panas. Ketika serbuk tersebut dilarutkan dalam air panas terbentuk endapan bening dan endapan berwarna kekuningan. Larutan yang dihasilkan diasamkan dengan HCl kemudian dipanaskan. Ketika ditambah dengan HCl dan dipanaskan tidak terjadi perubahan pada larutan tersebut. Setelah dipanaskan larutan ditambahkan dengan BaCl2. Penambahan BaCl2 ini menyebabkan terbentuknya endapan puith dari BaSO4. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut.
BaCl2 + SO42- BaSO4

IV. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Protein menunjukkan uji positif terhadap uji biuret. Ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna ungu.
2. Pada pengendapan protein dengan ion logam berat, pengendapan terjadi karena ion logam berat dengan protein membentuk garam proteinat yang tidak larut dalam air.
3. Pada pengendapan dengan garam. Endapan terjadi karena ion garam lebih mudah untuk mengikat air dibandingkan dengan molekul protein.
4. Pada uji koagulasi, protein mengalami koagulasi karena terjadinya perubahan pengkutuban muatan sehingga konformasi protein rusak.
5. Pada pengendapan dengan alkohol, gugus hidroksi dari alkohol lebih mudah terhidrasi sehingga protein mengendap.
6. Denaturasi protein terjadi karena adanya perubahan pH atau suhu yang tidak terlalu extrem.
7. Uji sulfur pada protein menunjukkan uji positif dengan terbentuknya endapan puith BaSO4.





DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairil. Dkk. 1994. Pengantar Praktikum KimiaOrganik. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Fessenden, F dan Fessenden. 1994. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Girindra, Aisjah.1993. Biokimia I. Jakarta: PT. Gramedia
Nurlita, Frieda.dkk. 2002. Kimia Organik II. Singaraja: IKIP N Singaraja
Sindumarta, Muliawati, Desy Natalia. Biokimia I: Struktur dan Katalis. Departemen Kimia: Penerbit ITB
Wirahadikusuma, Muhamad. 2001. Biokimia: Protein, Enzim dan Asam Nukleat. Bandung: Penerbit ITB
http://jlcome.blogspot.com/2007/10/pengetahuan-protein.html

Sabtu, 13 November 2010

PALA (Myristica Fragan Haitt)
1. Taksonomi dan Deskripsi Tanaman
Pala ( Myristica fragrans Houtt) adalah tanaman daerah tropik yang memiliki 200 spesies, dan seluruhnya tersebar di daerah tropis. Dalam keadaan pertumbuhan yang normal, tanaman pala memiliki mahkota yang rindang, dengan tinggi batang 10-18 m. Mahkota pohonnya meruncing ke atas, dengan bagian paling atasnya agak bulat serta ditumbuhi daunan yang rapat. Daunnya berwarna hijau mengkilat, panjangnya 5-15 cm, lebar 3-7 cm dengan panjang tangkai daun 0,7-1,5 cm (Departemen Pertanian, 1986).
Tanaman pala termasuk golongan tanaman berjenis kelamin tunggal, meskipun terdapat pula tanaman berjenis kelamin ganda. Berumah dua, yang memiliki perbedaan yang jelas antara pohon betina dan pohon jantan. Tanaman pala betina di tandai dengan pertumbuhan cabangnya secara horizontal (mendatar), sedangkan tanaman pala jantan di tandai dengan cabang-cabangnya yang mengarah ke atas membuat sudut lancip dengan batangnya.


(a) (b) (c)
Gambar 1: (a) Pohon pala, (b) buah pala, (c) biji pala

Tanaman pala memiliki buah berbentuk bulat, berwarna hijau kekuning-kuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara 3-9 cm, daging buahnya tebal dan asam rasanya. Biji berbentuk lonjong sampai bulat, panjangnya berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklat dan mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputih-putihan sedangkan fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala (Departemen Pertanian, 1986)..
Jenis-jenis tanaman pala sebagai berikut :
a. Myristica fragrans Houtt
Para petani pala kebanyakan menyebutnya sebagai pala asli, jenis ini merupakan jenis umum yang diusahakan di Indonesia. Penyebarannya merata ini disebabkan karena pala yang dihasilkan baik dalam bentuk biji maupun fuli, memiliki mutu yang tinggi, karenanya jenis inilah yang paling banyak diminta pasar dunia.
Dari jenis ini dikenal pula jenis- jenis pala daerah antara lain:
1) Pala Raja, fulinya cukup tebal dengan biji kecil.
2) Pala Meraya, buahnya merangkai-rangkai, tetapi jenis ini sudah sangat langka.
3) Pala Bui, bentuk bijinya bulat panjang, berasal dari pohon campuran.
4) Pala Pencuri, kulit biji tidak rata dan fulinya tidak menutup buah.
5) Pala Holland, dikenal pula dengan nama pala putih karena warna fulinya putih. Fuli ini akan berubah warnanya menjadi kuning setelah di jemur.
b. Myristica argentea Ware
Jenis pala ini banyak dijumpai di Irian Jaya, tinggi pohonnya mencapai 15 m dan dapat tumbuh pada ketinggian daerah 700 m di atas permukaan laut. Selain Irian Jaya, pala jenis ini juga terdapat di Seram dan beberapadaerah di sekitarnya. Fuli dari jenis ini disebut fuli liar, karena kualitasnya yang berbeda serta aroma kurang halus dibandingkan dengan pala jenis Myristica fragrans Houtt. Kandungan minyak etheris dari fulinya hanya 6,5%. Pala jenis ini terutama dihasilkan menjadi nutmeg butter. Pala jenis ini termasuk yang mendapat pasaran dalam perdagangan.


c. Myristica fattua Houtt
Jenis pala ini di Maluku disebut pala jantan atau pala utan, di Pulau Jawa buahnya sering dipakai sebagai ramuan bahan jamu.
d. Myristica specioga Ware
Banyak dijumpai di pulau Bacan, tidak ekonomis, karenanya tidak banyak diusahakan.
e. Myristica sucedona BL
Pala jenis ini sering pula disebut pala Halmahera, tergolong pala eksport.
f. Myristica malabarica LAM
Pala jenis ini berasal dari Malabar, bijinya lonjong, tidak memiliki aroma, karenanya tidak diperdagangkan (Departemen Pertanian, 1986)..

Klasifikasi tanaman pala adalah sebagai berikut :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliphyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Magnoliales
Famili : Myristicaceae
Genus : Myristica
Spesies : Fragans (www. wikipedia.org/wiki/pala)

2. Kandungan Kimia dan Transformasinya
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen (zat membius), dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat, borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung trimyristin (http://www.asiamaya.com/jamu/isi/pala_myristicafragrans.htm).
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan lapisan kapur, setelah fulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 - 17% minyak terbang yang ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli.
Kandungan senyawa utama yang terdapat pada buah pala adalah trimiristin. Trimiristin adalah suatu trigliserida , yaitu ester yang terbentuk dari gliserol dan asam miristat. Trimiristin adalah padatan yang berwarna putih kekuningan yang tidak larut dalam air. Trimiristin dapat larut dalam etanol, benzena, eter, diklorometana dan kloroform. Isolasi trimiristin dapat dilakukan dengan ekstraksi sederhana dan kemudian dihablurkan (Muderawan dan Suja, 2008).

Gambar 2. Struktur trimiristin

Trimiristin biasanya digunakan untuk penelitian dan pengembangan. Trimiristin dihidrolisis untuk menghasilkan asam miristat dan gliserol. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :
(Kathleen V. Kilway and Gerardo Marquez, 2006)


Asam miristat atau asam tetradekanoat merupakan asam lemak jenuh yang tersusun dari 14 atom C. Asam miristat dan derivatnya memiliki peran yang sangat penting dalam industri kosmetik. Miristil alkohol merupakan komposisi penting untuk mengurangi efek pemutihan kulit. Miristil laktat merupakan komposisi aktif dalam pewarna bibir dan masih banyak produk-produk perawatan kulit dan kosmetik yang mengandung derivat dari asam miristat.
Gliserol adalah senyawa organik dengan gugus hidroksil yang bersifat hidrofilik dan higroskopik. Gliserol merupakan komponen yang menyusun berbagai macam lipid, termasuk trigliserida. Gliserol terasa manis saat dikecap, namun bersifat toksin. Gliserol dapat diperoleh dari proses saponifikasi dari lemak hewan, transesterifikasi pembuatan bahan bakar biodiesel dan proses epiklorohidrin serta proses pengolahan minyak goring (www. wikipwedia.org/wiki/gliserol).
.
3. Manfaat Tanaman
Pala dikenal sebagai obat pelepas kelebihan gas di usus dan sebagai obat perut. Kulit dan daunnya mengandung minyak terbang dengan wangi pala yang menyenangkan. Pala Irian dipakai sebagai obat pencahar sedangkan pala jantan dipakai sebagai obat mencret dan obat perangsang. Bunga kering (kembang pala) dipakai pada berbagai campuran jamu. Getah segar yang berwarna kehijau-hijauan dari buahnya (beserta air) dipakai sebagai obat kumur untuk mengobati sariawan. Sabun pala beguna untuk mengobati encok (http://www.asiamaya.com/jamu/isi/pala_myristicafragrans.htm).
Kegunaan khusus dari biji Pala, yarig dikenal sebagai Nux moschata M.moschata adalah sebagai obat homoeopathi. Biji kerasnya dicuci, dan untuk menghilangkan kapurnya, dibuat menjadi tinktur (direndam dalam alkohol) atau tepung. Obat homoeopathis berguna untuk mengobati sakit histeri, sembelit, mencret dan penyakit sulit tidur atau perut kembung (http://www.asiamaya.com/jamu/isi/pala_myristicafragrans.htm).
Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik. Manfaat dari masing-masing bagian tanaman pala adalah sebagai berikut.
1) Kulit batang dan daun
Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri
2) Fuli
Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.
3) Biji pala
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah dan lain-lainya.
4) Daging buah pala
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kristal daging buah pala (Menegristek, 2000).


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pertanian. 1986. Pala dan Pengolahannya. http://www.pustaka-deptan.go.id/agritek/ppua0158.pdf. Diakses pada 20 Mei 2010.
Kilway. Kathleen V and Gerardo Marquez. 2006. Solid-Liquid Extraction: Trimyristin from Nutmeg. Experiment Procedure. Kansas City: Department of Chemistry University of Missouri.
Menegristek. 2000. P a l a ( Myristica Fragan Haitt ). http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/pala.pdf. Diakses pada 20 Mei 2010
Muderawan, I Wayan dan I Wayan Suja. 2008. Penuntun Praktikum Organik. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/pala_myristicafragrans.htm
www. wikipedia.org/wiki/pala
www. wikipwedia.org/wiki/gliserol

Perubahan warna indikator

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan konsentrasi suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan titrasi pengendapan bila melibatkan reaksi pengendapan.

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa dilakukan berdasarkan reaksi penetralan. konsentrasi larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Pada titrasi asam basa, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi.

Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa. Untuk menentukan titik ekivalen pada reaksi asam-basa dapat digunakan indikator asam-basa. Namun, indikator hanya mampu menentukan titik akhir titrasi, bukan titik eqivalen titrasi.

Indikator asam basa adalah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungan berubah (W Harjadi, 1986). Dari perubahan warna ini akan dapat ditentukan titik akhir titrasi. Indikator asam basa yang sering dipakai dalam titrasi asam basa diantaranya adalah bromtimol biru, metil jingga, fenolftalein dan yang lainya.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai penyebab berubahnya warna indikator asam basa bila terjadi perubahan pH.


 


 


 


 

  1. Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimanakah perubahan warna indikator pada titrasi asam basa?


 

  1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penyebab berubahnya warna indikator asam basa bila terjadi perubahan pH.


 

  1. Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Dapat mengetahui kajian tentang penyebab berubahnya warna indikator asam basa bila terjadi perubahan pH.
  2. Dapat memperdalam pengetahuan tentang titrasi asam basa.


 


 


 

BAB II

TELAAH PUSTAKA

  1. Teori Asam-Basa

    2.1.1 Teori Asam Basa Arrhenius

Di tahun 1886, Arrhenius mengusulkan teori disosiasi elektrolit, dengan teori ini mendefinisikan asam basa sebagai berikut:

Teori asam basa Arrhenius:

  1. asam: zat yang melarut dan mengion dalam air menghasilkan ion H+.
  2. basa: zat yang melarut dan mengion dalam air menghasilkan ion hidroksida (OH)

Dengan demikian, keasaman asam klorida dan kebasaan natrium hidroksida dijelaskan dengan persamaan berikut:

HCl + aq H+(aq) + Cl(aq)

NaOH + aq Na+(aq) + OH(aq)

(aq) menandai larutan dalam air.     


 

2.2.2 Teori Asam Basa Bronsted-Lowry

Menurut teori asam-basa Bronsted-Lowry, asam adalah zat yang dapat menyumbangkan proton, sehinnga disebut donor proton. Basa adalah zat yang dapat menerima proton sehingga disebut akseptor proton.

Contoh asam-basa menurut teori Bronsted-Lowry adalah sebagai berikut:

        H2O + HCl        H3O+ + Cl-

Dalam reaksi di atas HCl termasuk asam karena memberi proton sedangkan H2O termasuk basa karena menerima proton. Zat yang telah menerima proton disebut asam konyugasi sedangkan yang telah memberi proton disebut basa konyugasi. Dalam contoh reaksi di atas, H3O+ adalah asam konyugasi, sedangkan Cl- adalah basa konyugasi.


 


 

2.2.3 Teori Asam Basa Lewis

Menurut teori asam-basa Lewis, asam adalah senyawa yang dapat menerima pasangan elektron, sedangkan basa adalah senyawa yang dapat memberikan pasangan elektron. Reaksi asam basa Lewis termasuk reaksi pembentukan ikatan koordinasi. Contoh asam-basa menrut Lewis adalah sebagai berikut :


 

Pada contoh di atas NH3 merupakan basa kerena mendonorkan pasangan electron sedangkan BF3 adalah asam karena menerima pasangan electron.


 


 

  1. Titrasi

Titrasi merupakan suatu metode standar laboratorium untuk analisis kimia untuk menentukan konsentrasi dari suatu reaktan dengan menggunakan reaktan lain yang telah diketahui konsentrasinya.. Suatu reagen, yang disebut dengan titran, yang konsentrasi dan volumenya telah diketahui digunakan untuk menentukan konsentrasi titrat yang telah diketahui volumenya. Titran ditempatkan pada suatu alat yang digunakan untuk proses titrasi, yaitu buret, sehinnga dapat ditentukan perbandingan antara titran dengan titrat pada akhir titrasi.

Titrasi asam basa didasarkan atas reaksi penetralan suatu asam oleh basa atau sebaliknya. Jika suatu basa bebas atau basa yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dititrasi dengan larutan standar asam, maka titrasinya dikenal sebagai titrasi asidimetri. Untuk titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa untuk menitrasi asam bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah. Dengan demikian, titrasi asam basa menyangkut 1) titrasi antara asam kuat dan basa kuat, 2) asam kuat dan basa lemah, 3) asam lemah dan basa kuat, 4) asam kuat dan garam dari asam lemah, serta 5) titrasi basa kuat dengan garam dari basa lemah.

Banyak metode yang digunakan untuk mengindikasikan titik akhir suatu titrasi; titrasi menggunakan indikator visual, artinya yang dapat diamati dengan mata secara langsung. Dalam titrasi asam-basa yang sederhana, suatu indikator pH dapat digunakan, seperti pp, dimana akan berubah menjadi warna merah ketika berada dalam rentangan pH nya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Gambar 1. Alat-alat titrasi

(Harjadi, W. 1986)

Beberapa jenis titrasi, antara lain:

  1. titrasi asam-basa,
  2. titrasi redoks,
  3. pengendapan,
  4. titrasi kompleksiometri,
  5. konduktometri,
  6. titrasi isotermal kalorimetri.


 


 


 

  1. Indikator

Indikator adalah senyawa organik yang dapat berubah warna bila pH larutanya berubah.

Sumber indikator alam, umumnya berasal dari tumbuhan (akar, daun, bunga, buah, atau biji) dan dapat dibuat ekstraksi dengan pelarutnya yang sesuai. Selain indikator alam, kini dikenal dengan juga indikator sintesis (dibuat secara sintetik) tergolong golongan sulfonftalein dan ftalein. Bahkan indikator sintesis lebih unggul dari indikator alam karena memberikan perubahan warna yang lebih jelas (cemerlang).

Suatu indikator memiliki kepekaan terhadap perubahan pH larutan. Ada juga kelompok indikator yang peka terhadap konsentrasi ion-ion logam tertentu seperti ion Mg2+, ion Ca2+, ion Cu2+. Indikator terakhir ini sering disebut sebagai indikator metalokromik memiliki peran dalam titrasi kelometrik.

Indikator pH yang digunakan untuk menunjukkan titik akhir suatu titrasi harus memenuhi dua persyaratan berikut. Pertama, indikator harus berubah warna tepat pada saat titran ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi (selisih antara titik akhir dengan titik ekivalen). Hal ini dapat dipenuhi apabila trayek indikator mencakup pH larutan pada titik ekivalen atau sangat mendekati. Kedua, perubahan warna indikator harus mendadak pada saat titik akhir titrasi, sehingga dapat ditentukan dengan pasti saat titrasi harus dihentikan. Apabila perubahan warna terjadi dengan mendadak sekali (yakni tetes terakhir menyebabkan warna sama sekali lain) maka dikatakan titik akhirnya tegas atau tajam (sharp). Persyaratan ini dapat terpenuhi apabila trayek indikator memotong bagian yang sangat curam dari kurva.

Selama proses titrasi asam basa terjadi perubahan pH titrat misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Setiap keadaan selama penambahan titran tertentu akan mempunyai pH tertentu dan apabila dibuat grafik antara pH larutan dengan volume titran maka akan diperoleh grafik yang disebut kurva titrasi.


  1.  
  2. 2.3.1 Jenis-jenis indikator

    Dari segi fungsinya, dikenal beberapa macam kelompok indikator diantaranya adalah sebagai berikut.

    1. Indikator Asam-Basa

      Contoh: lakmus, fenolftalin, fenol merah, metil jingga, metil merah, brom-timol biru, brom-kresol hijau, brom-kresol ungu, dan sebagainya.

    2. Indikator Redoks

      Contoh: metilen biru, difenil-amin, difenil-benzidin, feroin, nitroferoin, 5-metilferoin, asam difenilamin sulfonat, dan sebagainya.

    3. Indikator Kulometrik

      (berupa elektrode pembanding-indikator)

    4. Indikator Kelometrik (Indikator Metalokromik)

      Contoh: Erichrome Black T, kalmagit, difenil karbazida, difenil karbazon, natrium nitro-prusida, pirokatekol ungu, dan sebagainya.

    5. Indikator Pengendapan (Indikator Adsorpsi)

      Contoh: eosin, fluoresin, diklorofluoresin, ortokrom T, ion kromat

      (CrO42-), ion ferri (Fe3+), dan sebagainya.

    6. Indikator Pendar-Fluor (Indikator Fluoresen)

      Contoh: iosin, eritrosin, resorufin, kuinin, asam naftol-sulfonat, diazol kuning-brilian, dan sebagainya.

      (Mulyono HAM)


       

  3. 2.3.2 Indikator asam-basa

    Analisis memanfaatkan perubahan besar dalam pH yang terjadi dalam titrasi, untuk menerapkan kapan titik kesetaraan itu tercapai. Terdapat banyak asam dan basa organik lemah yang bentuk ion dan bentuk tak-terdisosiasinya menunjukkan warna yang berlainan. Molekul-molekul semacam itu dapat digunakan untuk menetapkan kapan telah ditambahkan cukup titran dan disebut indikator tampak (visual indicator). Suatu contoh sederhana adalah p-nitrofenol, yang merupakan asam lemah dengan disosiasi sebagai berikut:


     


     


     


     


     


     


     

    Gambar 3. Struktur dan perubahan warna dari p-nitrofenol (A. L. Underwood, 1986).


     

    Bentuk tak-terdisosiasinya tak berwarna, namun anionnya, yang memiliki sistem rangkap-tunggal selang-seling (sistem konjugasi), berwarna kuning. Molekul atau ion yang memiliki sistem konjugasi semacam itu menyerap cahaya yang lebih panjang. Cahaya yang diserap seringkali berada dalam bagian tampak dari spektrum, dan karenanya molekul atau ion itu berwarna.

        Untuk sederhananya, misalkan indikator asam, dalam hal ini pp, dilambangkan dengan Hln, indikator basa dengan lnOH. Ungkapan disosiasi adalah

        HIn + H2O H3O+ + In

    InOH In+ + OH

    Tetapan disosiasi asam adalah


     

    Dalam bentuk logaritma, ini menjadi


     

    Sebagai ilustrasi andaikan bahwa molekul Hln tak-berwarna dan ion ln- merah, tentu saja kedua bentuk itu terdapat dalam suatu larutan indikator itu, dengan konsentrasi relatif mereka bergantung pada pH. Warna yang dideteksi oleh mata manusia bergantung pada kuantitas relatif bentuk tersebut. Jelas dalam larutan-larutan dengan pH rendah, Hln lebih melimpah dan kita mengharapkan hanya menampakkan tak-berwarna. Dalam larutan dengan pH tinggi, ln- akan lebih melimpah dan warnanya merah. Perubahan minimum dalam pH yang diperlukan untuk suatu perubahan warna diacu sebagai "rentang pH indikator". Pada pp, jangkauan pHnya antara 8,0-9,6. Pada nilai pertengahan pH, warna yang diperlihatkan lebih muda (merah muda). Berikut disajikan beberapa indikator asam-basa dalam tabel 1.

    Tabel 1. Beberapa indikator asam-basa

    Indikator 

    Perubahan warna dengan naiknya pH 

    Jangka pH 

    Asam pikrat

    Biru timol

    2,6-Dinitrofenol

    Kuning metal

    Jingga metil

    Hijau bromkresol

    Merah metil

    Lakmus

    Ungu metil

    p-Nitrofenol

    Ungu bromkresol

    Biru bromtimol

    Merah netral

    Merah fenol

    p-a Naftolftalin

    Phenolphtalein (pp)

    Timolftalin

    Kuning R alizarin

    1, 3, 5-Trinitrobenzena 

    Tak-berwarna ke kuning

    Merah ke kuning

    Tak-berwarna ke kuning

    Merah ke kuning

    Kuning ke biru

    Merah ke kuning

    Kuning ke biru

    Merah ke kuning

    Merah ke biru

    Ungu ke hijau

    Tak-berwarna ke kuning

    Kuning ke ungu

    Merah ke kuning

    Kuning ke merah

    Kuning ke merah

    Tak-berwarna ke merah
    tak-berwarna ke biru

    Kuning ke lembayung

    Tak-berwarna ke jingga 

    0,1-0,8

    1,2-2,8

    2,0-4,0

    2,9-4,0

    3,1-4,4

    3,8-5,4

    4,2-6,2

    5,0-8,0

    4,8-5,4

    5,6-7,6

    5,2-6,8

    6,0-7,6

    6,8-8,0

    6,8-8,4

    7,0-9,0

    8,0-9,6

    9,3-10,6

    10,1-12,0

    12,0-14,0 

    (
    A. L. Underwood, 1986)


     


     


     


     

    BAB III

    METODE PENULISAN

    3.1 Metode Penulisan

        Dalam penulisan karya tulis ini mengunakan metode kajian pustaka yaitu metode untuk mendapatkan informasi melalui buku-buku sumber dan literatur. Dimana melalui metode kepustakaan ini didapatkan suatu landasan teori untuk dijadikan pedoman atau landasan untuk berpijak dalam melakukan kajian terhadap permasalahan.


     

    1. Langkah – Langkah Penulisan Karya Tulis

    Secara garis besar tahapan penulisan karya tulis ini dapat dibuat dalam bentuk bagan seperti Gambar 4.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Gambar 4. Bagan penulisan


     


     


     


     


     

    BAB IV

    ANALISIS DAN SINTESIS

    4.1 Analisis

    Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan konsentrasi suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan titrasi pengendapan bila melibatkan reaksi pengendapan.

    Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa dilakukan berdasarkan reaksi penetralan. konsentrasi larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Pada titrasi asam basa, jumlah asam harus ekivalen dengan jumlah basa. Untuk itu perlu ditentukan titik ekivalen reaksi.

    Banyak metode yang digunakan untuk mengindikasikan titik akhir suatu titrasi seperti menggunakan indikator visual, artinya yang dapat diamati dengan mata secara langsung. Dalam titrasi asam-basa yang sederhana, suatu indikator pH yang dapat digunakan adalah phenolphthalein (PP), dimana PP akan berubah menjadi warna merah ketika berada dalam rentangan pH nya.

    Indikator pH yang digunakan untuk menunjukkan titik akhir suatu titrasi harus memenuhi dua persyaratan berikut. Pertama, indikator harus berubah warna tepat pada saat titran ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi (selisih antara titik akhir dengan titik ekivalen). Hal ini dapat dipenuhi apabila trayek indikator mencakup pH larutan pada titik ekivalen atau sangat mendekati. Kedua, perubahan warna indikator harus mendadak pada saat titik akhir titrasi, sehingga dapat ditentukan dengan pasti saat titrasi harus dihentikan. Apabila perubahan warna terjadi dengan mendadak sekali (yakni tetes terakhir menyebabkan warna sama sekali lain) maka dikatakan titik akhirnya tegas atau tajam (sharp). Persyaratan ini dapat terpenuhi apabila trayek indikator memotong bagian yang sangat curam dari kurva.

    Selama proses titrasi asam basa terjadi perubahan pH titrat misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Setiap keadaan selama penambahan titran tertentu akan mempunyai pH tertentu. Perubahan pH ini akan menyebabkan perubahan warna pada indikator, sehingga dapat ditentukan titik akhir titrasinya.


     

    4.2 Sintesis

    Indikator asam basa merupakan asam atau basa organik lemah, sehingga dalam larutan mengalami kesetimbangan pengionan. Molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda dengan ion-ionnya. Hal ini disebabkan karena terjadi perubahan struktur, yaitu struktur molekul dan ionnya berbeda. Karena itu sifat penyerapan sinar ikut berbeda dan mengakibatkan perbedaan warna.

    Misalnya suatu indikator bersifat asam lemah dengan simbol HIn. Dalam pengionannya terjadi kesetimbangan

    HIn H+ + In-


     

    Dari reaksi di atas dapat dilihat kalau kesetimbangan tergantung pada pH lingkungannya.Dalam larutan asam, konsentrasi ion H+ dalam larutan tinggi sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah pembentukan HIn. Hal ini menyebabkan lebih banyak molekul HIn dalam larutan itu daripada ion In-, maka warna larutan lebih banyak ditentukkan oleh warna molekul (warna A). Dalam suasana basa, terdapat banyak ion OH-. Ion-ion ini akan mengikat ion H+ sehingga konsentrasi ion H+ akan berkurang dan kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan. Jadi dalam larutan basa terdapat jauh lebih banyak ion In- daripada molekul-molekul Hln, sehingga warna larutan lebih banyak ditentukan oleh warna B. Pada setiap pH terjadi kesetimbangan seperti di atas, hanya letak kesetimbangannya yang berbeda-beda, lebih ke kiri atau ke kanan atau setimbang.    Dari letak kesetimbangan itu, maka perbandingan konsentrasi {[HIn] : {[In-]} nilainya bisa besar sekali, besar, kecil, atau kecil sekali. tetapi tidak mungkin salah satu spesies tersebut menjadi nol. Berarti, bahwa warna larutan sesungguhnya selalu merupakan warna campuran, yakni warna A dan B. Misalkan bahwa molekul HIn berwarna merah dan ion In- berwarna kuning. Kedua bentuk tersebut berada dalam larutan indikator dengan konsentrasi bergantung pada pH. Warna yang dideteksi oleh mata manusia bergantung dari kuantitas dari masing-masing bentuk tersebut. Dalam pH rendah, HIn lebih banyak dalam larutan, sehingga yang nampak adalah warna merah. Dalam pH tinggi, In- lebih melimpah, sehingga warna kuning yang nampak.

    Misalkan, dalam suatu titrasi antara asam kuat (HCl) dengan basa kuat (NaOH), dimana HCl sebagai titrat dan NaOH sebagai titran. Dalam titrasi tersebut digunakan indikator phenolptalein (PP), dimana trayek pH indicator PP adalah 8,0-9,6. Ketika indikator PP ditambahkan pada titrat (larutan HCl), indikator PP akan mengalami disosiasi menjadi ion-ionnya. Dalam pengionannya, warna molekul PP berbeda dengan warna ionnya, dimana molekul PP tidak berwarna sedangkan ionnya berwarna merah muda. Persamaan disosiasinya sebagai berikut:


     


     


     

    Pada awal titrasi, saat belum ada penambahan NaOH ke dalam larutan titrat, larutan titrat masih berada dalam suasana asam, sehingga di dalam larutan masih banyak terdapat ion H+. Hal ini menyebabkan molekul PP di dalam larutan lebih banyak daripada ionnya, sehingga warna larutan dipengaruhi oleh warna PP, yaitu tak berwarna.

    Saat titrasi dimulai, terjadi penambahan NaOH ke dalam larutan titrat sehingga pH larutan terus meningkat. Peningkatan pH larutan menyebabkan larutan menjadi semakin basa. Karena larutan menjadi semakin basa, jumlah ion OH- dalam larutan akan semakin banyak. Ion-ion ini akan mengikat ion H+, sehingga konsentrasi ion H+ akan berkurang dan kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan. Jadi, dengan penambahan NaOH, jumlah molekul PP jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah ionnya, sehingga warna larutan akan dipengaruhi oleh warna ionnya dan warna larutan akan berubah menjadi merah muda. Gambar 5 menunjukkan penambahan larutan NaOH menyebabkan peningkatan pH larutan sehingga larutan menjadi basa.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Gambar 5. Grafik peningkatan pH larutan karena penambahan larutan NaOH


     


     


     

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

        Berdasarkan pembahasan di atas, dapat dapat disimpulkan:

    Perubahan warna indikator terjadi karena pengionannya membawa perubahan struktur yaitu struktur molekul dan ionnya berbeda. Karena itu sifat penyerapan sinar ikut berbeda dan mengakibatkan perbedaan warna.


     

    5.2 Saran

    Dari penulisan karya tulis ini, adapun saran yang dapat kami sampaikan, yaitu sebagai berikut.

    1. Dalam pemilihan indikator untuk titrasi asam basa agar diperhatikan trayek pH dari indikator yang akan digunakan.
    2. Untuk memperdalam kajian tentang titrasi asam basa, khususnya indikator, dapat dilakukan dengan membaca referensi lain yang terkait.


     


     

        
     


     

    DAFTAR PUSTAKA


     

    Achmad,. Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung: PT. Citra Aditya bakti.

    Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.

    HAM, Muliono. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Bumi Aksara.

    Simamora, Maruli, dkk. Kimia Dasar II. Singaraja. Universitas Pendidikan Ganesha

    Underwood, AL/R.A. Day, Jr. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif edisi ke-5. Jakarta: Erlangga.


     

LITHIUM

Litium atau nama asalnya Lithium, ialah adalah sejenis unsur kimia yang mempunyai nombor atom 3 dan tergolong didalam kumpulan logam alkali. Litium adalah sejenis logam lembut, berwarna putih keperakan dan sangat aktif terhadap air dan udara. Litium juga merupakan unsur logam paling ringan yang pernah dijumpai. Logam ini digunakan sebagai aloi pindahan haba di dalam bateri, dan salah satu komponen di dalam sesetengah ubat contohnya penstabil perasaan.
Menurut teorinya, litium (kebanyakan 7Li) adalah salah satu dari sedikit unsur yang disintesis dalam kejadian Dentuman Besar walaupun kelimpahannya sudah jauh berkurang. Sebab-sebab menghilangnya litium dan proses pembentukan litium yang baru menjadi topik penting dalam astronomi. Litium adalah unsur ke-33 paling melimpah di bumi,[1] namun oleh karena reaktivitasnya yang sangat tinggi membuat unsur ini hanya bisa ditemukan di alam dalam keadaan bersenyawa dengan unsur lain. Litium ditemukan di beberapa mineral pegmatit, namun juga bisa didapatkan dari air asin dan lempung. Pada skala komersial, logam litium didapatkan dengan elektrolisis dari campuran litium klorida dan kalium klorida.
Sekelumit litium terdapat dalam samudera dan pada beberapa organisme walaupun unsur ini tidak berguna pada fungsi biologis manusia. Walaupun demikian, efek neurologi dari ion litium Li+ membuat garam litium sangat berguna sebagai obat penstabilan suasana hati. Litium dan senyawa-senyawanya mempunyai beberapa aplikasi komersial, meliputi keramik dan gelas tahan panas, aloi dengan rasio kekuatan berbanding berat yang tinggi untuk pesawat terbang, dan baterai litium. Litium juga memiliki tempat yang penting dalam fisika nuklir.

1. Sejarah
Litium (Yunani lithos, bererti "batu") telah ditemui oleh Johann Arfvedson pada 1817. Arfvedson menjumpai unsur ini di dalam mineral spodumen dan lepidolit (di dalam petalit), LiAl(Si2O5)2, semasa beliau menganalisa spesimen daripada pulau Utö di Sweden. Pada tahun 1818 Christian Gmelin merupakan orang pertama yang mencerap warna garam litium apabila dibakar, iaitu warna merah terang. Arfvendson dan Gmelin cuba mengasingkan unsur tersebut daripada garamnya namun kedua duanya gagal.
Unsur ini tidak berjaya diasingkan sehinggalah W.T. Brande dan Sir Humphrey Davy menggunakan kaedah elektrolisis ke atas litium oksida. Penghasilan komersil logam litium pula berjaya dilakukan oleh syarikat Jerman Metallgesellschaft AG melalui kaedah elektrolisis ke atas litium klorida dan kalium klorida.

2. Sifat-sifat
Litium ialah logam yang paling ringan di dunia dan mempunyai ketumpatan yang hanya separuh daripada ketumpatan air. Seperti kebanyakan logam alkali, Litium sangat mudah bertindak balas terhadap air dan oleh sebab itu, Litium tidak didapati secara semula jadi. Apabila Litium dipanaskan, logam ini akan menghasilkan cahaya yang berwarna putih.
Litium perlu disimpan di dalam cecair hidrokarbon tidak mudah bakar seperti nafta. Selain itu, litium tidak memainkan peranan dalam biologi semulajadi dan dianggap sedikit toksik. Ini bermakna, jika litium digunakan sebagai drug, kepekatan darah perlu diawasi.

3. Kegunaan
Disebabkan muatan habanya yang tinggi, Litium digunakan di dalam aplikasi pemindahan haba. Litium juga mempunyai keupayaan elektrokimia yang tinggi. Ini membolehkannya digunakan sebagai anod bateri. Kegunaan lain adalah seperti berikut:
 Garam Litium contohnya Litium karbonat (Li2CO3), Litium sitrat, and Litium orotat adalah penstabil modus yang digunakan dalam rawatan kecelaruan dwikutub. Litium juga digunakan sebagai antidepresan
 Litium klorida and lithium bromida bersifat higroskopik dan seringkali digunakan sebagai desiccant.
 Litium sterat digunakan sebagai pelincir bersuhu tinggi serbaguna.
 Litium ialah agen pengaloian bagi mensintesis sebatian organik, dan digunakan juga di dalam aplikasi nuklear.
 Litium juga digunakan di dalam pembuatan kaca dan seramik. Contohnya kaca
 Litium digunakan di dalam teleskop bersaiz 200 inci yang terletak di Gunung Palomar.
 Litium hidroksida digunakan untuk mengeluarkan karbon dioksida daripada udara di dalam pesawat angkasa and kapal selam.
 Aloi Litium bersama aluminium, kadmium, tembaga, dan mangan digunakan untuk menghasilkan komponen pesawat udara yang berprestasi tinggi.



4. Hidrida
Litium hidrida, LiH, senyawa kristalin tak bewarna (titik leleh (melting point, mp) 680 oC). Li+ dan H- membentuk kristal berstruktur garam dapur. Pelepasan kuantitatif gas hidrogen di anoda saat dilakukan elektrolisis garam leburnya menyarankan keberadaan H-. Air bereaksi dengan hebat dengan litium hidrida membebaskan gas hidrogen. Karena senyawa ini agak melarut dalam eter, hidrida ini digunakan sebagai pereduksi di kimia organik.

IDENTIFIKASI KANDUNGAN ASAM AMINO PADA PUTIH TELUR DENGAN UJI MILLON, HOPKINS-COLE, NINHIDRIN, PbS DAN REAKSI NITROPRUSIDA

I Kadek Agus Tarsana, 0613031035


 

ABSTRAK

Asam-asam amino yang secara alami menyusun protein mempunyai gugus fungsi amino (-NH2) dan karboksil ( -COOH) yang terikat pada atom karbon yang sama yaitu pada atom karbon alfa. Oleh karena itu, asam-asam amino ini disebut α-amino

Pada praktikum ini dilakukan identifikasi asam amino yang terdapat pada larutan protein. Identifikasi tersebut dilakukan dengan uji Millon, Uji Hoppkins-Cole, uji Ninhidrin, Uji dengan PbS dan reaksi Nitroprusida.

    Pada uji Millon, uji positif ditunjukkan oleh asam amino tirosin. Hal ini ditandai dengan terbentuknya endapan yang berwarna merah. Untuk uji Hopkins-Cole, uji positif ditunjukkan oleh asam amino triptofan yang ditandai oleh terbentuknya cincin ungu. Pada uji dengan Ninhidrin semua sampel asam amino menunjukkan uji positif yang ditandai oleh terbentuknya larutan berwarna biru. Uji PbS dan reaksi Nitroprusida menunjukkan uji positif terhadap sistein. Ini ditandai dengan terbentuknya larutan hitam pada uji PbS dan larutan merah pada reaksi nitroprusida.


 

  1. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita melakukan aktivitas. Untuk melakukan aktivitas itu, kita memerlukan energi yang dapat diperoleh dari bahan makanan yang kita makan. Pada umumnya bahan makanan itu mengandung tiga kelompok utama senyawa kimia, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.

Protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik. Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh, dan memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida.

Asam amino merupakan molekul organik dengan massa molekul rendah (antara 100-200 Da). Asam amino ini merupakan komponen penting untuk biosintesis protein. Dalam protein terdapat sekitar 20 jenis asam amino standar. Semuanya merupakan asam α-amino, kecuali prolin dan hidroksi prolin. Variasi yang terjadi antara asam-asam amino terletak pada gugus R atau rantai sampingnya. Berdasarkan gugus R-nya akan dapat diramalkan sifat-sifat suatu asam amino. Sebaliknya, berdasarkan sifat-sifat yang teridentifikasi akan dapat diketahui gugus R yang terkandung dalam asam amin tersebut atau akan diketahui jenis asam amino tersebut.


 


 

Gambar 1.1 Struktur asam α-amino


 

Berdasarkan struturnya, asam amino diklasifikasikan menjadi tujuh kelompok. Klasifikasi ini didasarkan pada sifat kimia dari gugus R-nya sehingga akan memudahkan dalam mengingat sifat-sifat umum dari setiap asam amino. Dengan klasifikasi ini, metode untuk analisa suatu asam amino tertentu.

Tabel 1.1 Klasifikasi Asam Amino Berdasarkan struktur Kimianya

Sifat Gugus R 

Contoh Asam Amino 

Alifatik 

Gly, Ala, Val, Leu, Ile 

Aromatik 

Phe, Tyr, Trp 

Hidrosiklik 

Ser, Thr 

Karbosiklik 

Asp, Glu 

Mengandung sulfur 

Cys, Met 

Imino 

Pro, Hyp 

Amino 

Lys, Arg 

Amida 

Asn, Gln 

Tabel 1.2 Beberapa Reaksi untuk Mendeteksi Asam Amino berdasarkan Gugus R

Reaksi Uji 

Reaksi/reagen 

Asam Amino yang dideteksi 

Warna 

Reaksi Millon 

HgNO3 dalam asam nitrat dengan sedikit asam nitrit

Tirosin 

Merah 

Reaksi Nanthoprotein

Pendidihan dalam asam nitrat

Tirosin, triptofan, fenilalanin

Kuning

Reaksi Hopkins-Cole

Asam glioksilat dalam H2SO4 pekat

Tryptopan

Ungu

Reaksi Sakaguci

α-naftol dan natrium hipoklorit

Arginin

Merah

Reaksi Nitroprusida

Natrium nitroprusida dalam NH3 encer

Sistein

Merah

Reaksi Pauli

Asam sulfanilat terdiazotasi dalam larutan basa

Histidin dan tirosin

Merah

Reaksi Folin-Ciocalteu 

Asam fosfomolibdat 

Tirosin  

Biru 


 

I.2 Tujuan

        Mengidentifikasi jenis-jenis asam amino yang terdapat pada larutan albumin telur melalui uji Millon, Uji Hopkins-Cole, Uji Ninhidrin, Uji PbS, dan reaksi Nitoprusida.


 

  1. METODE

Uji asam amino yang dilakukan percobaan ini adalah uji Millon, uji Hopkins-Cole, uji Ninhidrin, Uji PbS dan reaksi Nitroprusida.

  1. Uji Millon

Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan ke dalam larutan protein yang mengandung asam amino dengan rantai samping gugus fenolik, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Tetapi khusus untuk proteosa dan pepton secara langsung akan menghasilkan larutan berwarna merah. Endapan yang terbentuk berupa garam kompleks dari tirosin yang ternitrasi. Jika larutan protein yang dianalisis ada dalam sussana basa, maka terlebih dahulu harus dinetralisasi dengan asam, karena dalam basa ion merkuri dalam pereaksi akan mengendap sebagai Hg(OH)2. Pada penetralan ini digunakan asam selain HCl, karena ion Cl- dapat bereaksi dengan asam nitrat menghasilkan radikal klor (Cl.). Radikal klor dapat merusak kompleks berwarna. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksi fenil yang berwarna. Protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil yang positif.


 


 

Gambar 1.2 Struktur tirosin


 

Alat dan Bahan

Nama Alat 

Jumlah 

Nama Bahan 

Jumlah 

Tabung reaksi

Pipet tetes

Gelas kimia 25 mL

Gelas ukur 5 mL

Lampu spritus

1 rak

1 buah

1 buah

1 buah

1 buah

Larutan albumin

Reagen Millon

Sistein

Fenilalanin

Glisin

Tirosin

Triptofan

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Prosedur Kerja

  1. Sebanyak 5 tetes reagen Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein kemudian dipanaskan.
  2. Sebanyak 5 tetes reagen millon ditambahkan pada masing-masing 3 mL larutan tyrosin, tripthopan, phenilalanin, glisin dan sistein, kemudian dipanaskan.


 

  1. Uji Hopkins-Cole

Reagen Hopkins-Cole mengandung asam glioksilat (HOOC-CHO). Jika reagen ini ditambahkan ke dalam larutan senyawa yang mengandung cincin indol dan ditambah larutan asam sulfat pekat, maka akan terbentuk cincin ungu pada interfase kedua cairan tersebut. Karena triptofan merupakan satu-satunya asam amino yang mengandung cincin indol, maka uji ini dipakai untuk identifikasi asam amino triptofan dan protein yang mengandung asam amino triptofan. Cincin ungu yang tampak pada bidang batas antara kedua cairan adalah hasil kondensasi ttiptofan dengan gugus aldehida dari asam glioksilat dalam suasana asam pekat.


 

Gambar 1.3 asam 2,3,4,5-tetrahidro-β-karbolin-4 karboksilat


 

Alat dan Bahan

Nama Alat 

Jumlah 

Nama Bahan 

Jumlah 

Tabung reaksi

Pipet tetes

Gelas kimia 25 mL

Gelas ukur 5 mL

1 rak

1 buah

1 buah

1 buah

Larutan albumin

Reagen Hopkins-Cole

Larutan asam sulfat

Sistein

Fenilalanin

Glisin

Tirosin

Triptofan 

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Prosedur Kerja

  1. Larutan albumin sebanyak 2 mL ditambahkan dengan 2 mL reagen Hopkins-Cole. Lalu, ditambahkan lagi dengan larutan asam sulfat pekat melalui sisi tabung sampai kira-kira 5 mL dan bila perlu putar perlahan-lahan. Warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan diamati.
  2. Masing-masing 2 mL larutan tyrosin, phenilalanin, tripthopan, glisin dan sistein ditambahkan dengan 2 mL reagen Hopkins-Cole. Lalu, ditambahkan lagi dengan larutan asam sulfat pekat melalui sisi tabung sampai kira-kira 5 mL dan bila perlu putar perlahan-lahan. Warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan diamati.


 

  1. Uji Ninhidrin

Apabila ninhidrin (triketohidrin) dipanaskan bersama asam amino, maka akan terbentuk kompleks berwarna biru. Kompleks berwarna biru dihasilkan dari reaksi ninhdrin dengan hasil reduksinya, yaitu hidrindantin dan amonia. Asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan jalan mengamati intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi asam amino tersebut. Pada reaksi ini, dilepaskan CO2 dan NH4 sehingga asam amino asam amino dapat ditentukan secara kuantitatif dengan mengukur jumlah CO2 dan NH3 yang dilepaskan. Prolin dan hidroksi prolin menghasilkan kompleks yang berbeda warnanya dengan asam amino lainya. Kompleks berwarna yang terbentuk mengandung dua molekul ninhidrin yang bereaksi dengan amonia yang dilepaskan pada oksidasi asam amino.

Keseluruhan reaksi asam amino dengan ninhidrin adalah sebagai berikut:

  1. dekarboksilasi oksidatif dari asam amino dan produksi ninhidrin tereduksi, amoniak dan dioksida,
  2. reaksi ninhidrin tereduksi dengan molekul ninhidrin yang lain dengan molekul amoniak yang dihasilkan,
  3. pembentukan kompleks berwarna biru.


 


 

    Ninhidrin                Ninhidrin tereduksi


 


 

Gambar 1.3 Reaksi Ninhidrin


 

Alat Dan Bahan

Nama Alat 

Jumlah 

Nama Bahan 

Jumlah 

Tabung reaksi

Pipet tetes

Gelas kimia 25 mL

Gelas ukur 5 mL

Lampu spritus

1 rak

1 buah

1 buah

1 buah

1 buah 

Larutan albumin

Larutan Ninhidrin

Sistein

Fenilalanin

Glisin

Tirosin

Triptofan 

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Prosedur Kerja

  1. Ke dalam 3 mL larutan protein ditambahkan dengan 0,5 mL larutan ninhidrin 0,1% kemudian panaskan hingga mendidih.
  2. Ke dalam masing-masing 3 mL larutan tyrosin, tripthopan, phenilalanin, glisin dan sistein ditambahkan dengan 0,5 mL larutan ninhidrin 0,1% kemudian panaskan hingga mendidih. Perubahan warna yang terjadi diamati.


 

  1. Uji PbS

Belerang yang terdapat dalam asam amino sistein dibebaskan sebagai ion sulfida dengan kehadiran NaOH. Ion sulfida bereaksi dengan Pb2+ membentuk endapan hitam. Reaksinya:

S2+(aq) + Pb2+(aq)      PbS(s)


 

Alat dan Bahan

Nama Alat 

Jumlah 

Nama Bahan 

Jumlah 

Tabung reaksi

Pipet tetes

Gelas kimia 25 mL

Gelas ukur 5 mL

Lampu spritus

1 rak

1 buah

1 buah

1 buah

1 buah 

Larutan albumin

Larutan Pb-Asetat

Larutan NaOH

Sistein

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Prosedur Kerja

  1. Sebanyak 5 mL larutan sistein ditambahkan dengan 2 mL NaOH dan larutan Pb-asetat. Kemudian panaskan di dalam penangas air.


 

  1. Reaksi Nitroprusida

Pada asam amino sistein, selain terdapat gugus –COOH ,gugus –NH2 dan gugus R pada asam amino sistein juga terdapat –SH bebas (gugus sulfidril) bila bereaksi dengan natrium nitroprusida dalam amonia berlebih menghasilkan kompleks berwarna merah. Beberapa protein yang memberikan hasil negatif terhadap uji ini, ternyata menjadi positif setelah dipanaskan sampai mengalami koagulasi atau denaturasi. Hal ini menunjukkan proses tersebut menghasilkan gugus –SH bebas.

Reaksi:

[Fe3+(CN)3NC]2- + NH3 + RSH        NH4+ + [Fe2+ (CN)5NOSR]2-

                        Kompleks berwarna merah

Alat dan Bahan

Nama Alat 

Jumlah 

Nama Bahan 

Jumlah 

Tabung reaksi

Pipet tetes

Gelas kimia 25 mL

Gelas ukur 5 mL

1 rak

1 buah

1 buah

1 buah

Larutan albumin

Larutan Natriumprusida

Laruta sistein 

Secukupnya

Secukupnya

Secukupnya

Posedur Kerja

  1. Kristal sistein hidroksida dilarutkan ke dalam air, kemudian ditambah dengan nitropusida lalu ditambah lagi dengan larutan amoniak. Perubahan yang terjadi diamati.

    
 

                    

  1. PEMBAHASAN
  1. Uji Millon

Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat, bila direaksikan dengan senyawa yang mengandung gugus fenol akan membentuk endapan merah dengan pemanasan. Pada pengujian asam amino dengan uji Millon, larutan protein (albumi telur) ditambahkan dengan reagen Millon. Penambahan reagen Millon ini menyebabkan terbentuknya endapan putih yang kemudian berubah menjadi endapan merah. Hal ini membuktikan dalam larutan albumin tersebut positif mengandung tirosin.

Endapan putih yang terbentuk setelah penambahan reagen Millon pada larutan protein tersebut berasal dari endapan merkuri, dimana pada awalnya Hg yang terlarut di dalam HNO3 teroksidasi menjadi Hg+. Ion Hg + ini selanjutnya membentuk garam dengan gugus karboksil dari tirosin. Adapun reaksinya adalah sebagai berikut:


 


 

                        Endapan putih dari garan proteinat


 

Ketika dipanaskan endapan putih tersebut berubah menjadi endapan merah. Hal ini terjadi karena asam nitrat yang semula berfungsi sebagai pelarut mengoksidasi Hg + menjadi Hg2+. Bersamaan dengan hal tersebut, asam amino tirosin ternitrasi. Kemudian terjadi reaksi pembentukan HgO yang berwarna merah. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:


 

Untuk membuktikan bahwa dalam larutan albumin terdapat asam amino tirosin, maka dilakukan uji terhadap beberapa asam amino standar yang ada di laboratorium. Asam amino standar yang digunakan adalah fenilalanin, tirosin, glisin, sistein dan tiptofan. Pada pengujian dengan fenilalanin, glisin, sistein dan tiptofan tidak terbentuk endapan merah. Hal ini disebabkan karena pada keempat asam amino tersebut tidak mengandung gugus fenol. Pada pengujian dengan tirosin, setelah penambahan reagen Millon dan pemanasan tidak terjadi perubahan warna. Padahal, seharusnya terbentuk endapan merah yang dapat membuktikan bahwa dalam laruta albumin terdapat asam amino tirosin. Hal ini kemungkinan terjadi karena penambahan reagen Millon yang terlalu banyak.


 

  1. Uji Hopkins-Cole

Reagen Hopkins-Cole mengandung asam glioksilat (HOO-CHO). Jika reagen tersebut ditambahkan dengan senyawa yang mengandung cincin indol dan ditambahkan dengan asam sulfat maka akan membentuk cincin ungu pada interfase kedua cairan tersebut.. Pada pengujian asam amino dengan uji Hopkins-Cole, larutan albumin ditambahkan dengan reagen Hopkins-Cole dan asam sulfat. Penambahan tersebut menyebabkan terbentuknya dua lapisan dan terbentuk cincin ungu pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam larutan albumin positif mengandung triptofan, karena triptofan merupakan satu-satunya asam amino yang mengandung gugus indol. Cincin ungu yang terbentuk merupakan hasil kondensasi triptofan dengan gugus aldehida dari asam glioksilat dalam suasana asam sulfat. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:


 

    Triptofan         Asam glioksilat Asam-2,3,4,5-tetrahidro-β-karbolin-4-karboksilat

Penambahan asam sulfat dalam reaksi ini berfungsi sebagai oksidator dan juga sebagai dehidrator bagi asan glioksilat.

Untuk membuktikan bahwa dalam larutan albumin terdapat asam amino triptofan, maka dilakukan uji terhadap beberapa asam amino standar yang ada di laboratorium. Asam amino standar yang digunakan adalah Fenilalanin, tirosin, glisin, sistein dan triptofan. Pada pengujian dengan fenilalanin, tirosin, glisin dan sistein, tidak terjadi perubahan dan tidak terbentuk cincin ungu setelah asam-asam amino tersebut ditambahkan dengan reagen Hopkins-Cole dan asam sulfat. Hal tersebut terjadi karena kekempat asam amino tersebut tidak mengandung gugus indol. Pada pengujian dengan triptofan, terbentuk dua lapisan dan terbentuk cincin ungu di tengah-tengahnya setelah penambahan reagen Hopkins-Cole dan asan sulfat. Hal ini membuktikan bahwa di dalam larutan albumin terdapat asam amino triptofan.


 

  1. Uji Ninhidrin

Uji ninhidrin dipergunakan untuk identifikasi asam α-amino dan peptida yang memiliki gugus α-amino bebas. Ninhidrin jika ditambahkan dengan asam amino dan dipanaskan akan membentuk kompleks berwarna biru, kecuali pada prolin dan hidroksi prolin yang gugus aminanya tersubstitusi, memberikan hasil berwarna kuning. Adapun persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:


 

Ninhidrin     asam amino    ninhidrin tereduksi


 

                            Kompleks berwarna biru/ungu

Pada pengujian larutan albumin, menunjukkan uji positif terhadap uji ninhidrin. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna ungu ketika larutan tersebut ditambahkan dengan ninhidrin dan dipanaskan. Hal serupa juga terjadi pada pengujian fenilalanin, tirosin, glisin, sistein dan triptofan, ketika ditambahkan dengan ninhidrin dan kemudian dipanaskan, asam-asam amino tersebut membentuk larutan berwarna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa pada asam-asam amino tersebut terdapat α-amino bebas.


 

  1. Uji PbS

Pada uji ini, larutan sistein ditambahkan dengan NaOH dan Pb-Asetat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan unsur belerang dalam asam amino sistein. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwaasam amino sistein positif mengandung belerang, dengan terbentuknya endapan hitam PbS.

Ketika larutan sistein ditambahkan dengan NaOH, larutan menjadi keruh. Hal ini disebabkan karena penambahan NaOH menyebabkan belerang yang terdapat pada asam amino sistein terurai menjadi ion sulfida. Selanjutnya, dengan penambahan Pb-Asetat, ion sulfida yang terlepas dari sistein akan bereaksi dengan ion Pb2+ dari Pb- Asetat membentuk endapan hitam, PbS.

Persamaan reaksinya:

S2+(aq) + Pb2+(aq)      PbS(s)


 

  1. Reaksi Nitroprusida

Gugus sulfidril dalam larutan sistein akan bereaksi dengan natriumprusida dalam amonia berlebih membentuk kompleks berwarna merah. Pada pengujian ini penambahan natriumprusida dan amonia ke dalam larutan sistein menimbulkan warna merah. Warna merah ini dihasilkan dari reaksi antara gugus –SH dari sistein dengan natriumprusida dalam larutan amoniak. Hal ini menunjukkan uji positif terhadap reaksi nitroprusida. Adapun persamaa reaksinya adalah sebagai berikut:


 

Penambahan amonia pada pengujian ini berfungsi sebagai kation kompleks yang nantinya menggantikan posisi Na+ sebagai kation.


 


 


 


 


 


 


 

UJI SAMPLE UNKNOWN

  1. Uji Sample 1

Pada pengujian sample 1, dilakukan uji Millon, uji Hopkins-Cole, uji Ninhidrin, uji PbS dan reaksi nitroprusida. Dari kelima uji yang dilakukan, sampel 1 hany menunjukkan uji positif terhadap uji ninhidrin dengan terbentuknya warna biru. Dengan demikian sampel 1 adalah sam amino fenilalanin.

  1. Uji Sample 2

Pada pengujian terhadap sampel 2 juga dilakukan lima uji. Dari kelima uji yang dilakukan, sampel 2 menunjukkan uji positif terhadap uji Hopkins-Cole dengan terbentuknya cincin ungu dan uji ninhidrin dengan terbentuknya warna biru. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel 2 adalah triptofan.

  1. Uji Sample 3

Pengujian terhadap sampel 3 juga dilakukan lima uji. Dari kelima uji yang dilakukan, sampel 3 menunjukkan uji positif terhadap uji Hopkins-Cole dengan terbentuknya cincin ungu dan uji ninhidrin dengan terbentuknya warna biru. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel 3 adalah triptofan.


 

  1. SIMPULAN

    Dari hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    1. Larutan albumin menunjukkan uji positif terhadap uji Millon dan uji Hopkins-Cole.
    2. Uji Millon digunakan untuk uji tirosin, uji Hopkins-Cole untuk uji triptofan, uji ninhidrin untuk uji gugus asam amino bebas, uji Pbs dan nitroprusida untuk uji sistein.
    3. Untuk sampel unknown:
  • Sampel 1 mengandung asam amino fenilalanin
  • Sampel 2 mengandung asam amino triptofan
  • Sampel 3 mengandung asam amino triptofan


 


 


 


 


 


 

  1. DAFTAR PUSTAKA

    Fessenden, F dan Fessenden. 1994. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga

    Girindra, Aisyah.1993. Biokimia I. Jakarta: PT. Gramedia

    Nurlita, Frieda.dkk. 2002. Kimia Organik II. Singaraja: IKIP N Singaraja

Poedjadi, Ana dan Titin Supriyanti. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia

Wirahadikusuma, Muhamad. 2001. Biokimia: Protein, Enzim dan Asam Nukleat. Bandung: Penerbit ITB

    http://jlcome.blogspot.com/2007/10/pengetahuan-protein.html